#AkuBercerita Disini Ada Sebuah Harmoni


Perjalanan berkelok denan sesekali menanjak, melewati tanjakan curam nan berbahaya, dari kejauhan sudah terlihat megahnya gunung lawu. Hamparan sawah bertingkat- tingkat mengikuti kontur. Pohon-pohon yang besar dan rindang menambah sejuknya perjalanan. Sambil menikmati suasana pegunungan, aku sempat mengobrol dengan ibu-ibu di sampingku. Dari obrolanku singkat dalam minibus yang aku tumpangi, aku baru mengetahui kalau masyarakat lereng gunung lawu memiliki kepercayaan beragam. Ibu sendiri beragama hindu, sedangkan keluarganya adayang memeluk agama islam, Kristen dan Buddha. Tak ada paksaan bagi mreka dalam menanut keyakinan. Mereka memilih menurut keperyaaan sendiri-sendiri. Dan tidak ada masalah dengan perbedaan itu

Keluarga besar ibu merupakan potret dari masyarakat kaki gunung lawu yang majemuk. Beragamnya agama yang dianut merupakan cerminan keterbukaan mereka terhadap budaya baru. Melihat suasana pedesaan yang tenang dan damai. Masyaraktnya sangat ramah terhadap orang asing seperti saya. Ibu itu juga terbuka dan sangat bangga menceritakan kemajemukan kepercayaan yang ianut keluarganya.

Sepertinya, tidak nampak telah terjadi konflik antara mereka terkait kemajemukan kepercayan disini. Sebuah kondisi yang sangat di dambakan terjadi di negeri ini. Negri yang katanya masih bertindak diskriminatif terhaadap kaum minoritas.

Melihat harmoni di kaki gunung lawu itu, rasanya tidak mustahil bias terjadi di negeri ini. Suatu kondisi dimana masjid, gereja, vihara dan pura dapat berdiri bebas. Masyarakat dari berbagai keyakinan dapat bebas beribadaah sesuai keyakinan kepercayaanya masing-masing. Sementara ibu itu menyudahi obrolan ku dan mengucapkan selamat tinggal. Aku pun tak tahu siapa nama ibu itu, potret sebuah harmoni di kaki gunung lawu.


Ichsan f

Share:

2 komentar